Customer Support (62) 811-2266-828
chiyo baby wear
  >  parenting   >  Ciri-Ciri Speech Delay pada Anak dan Kapan Harus ke Psikolog atau Dokter

Ciri-Ciri Speech Delay pada Anak dan Kapan Harus ke Psikolog atau Dokter

Banyak orang tua merasa khawatir ketika anaknya belum lancar bicara, sementara anak lain yang seusia sudah mulai cerewet, menyebut banyak kata, atau mampu membuat kalimat sederhana. Kekhawatiran seperti ini sangat wajar. Bicara adalah salah satu kemampuan penting dalam tumbuh kembang anak karena melalui bicara, anak belajar menyampaikan keinginan, mengekspresikan emosi, membangun hubungan sosial, dan memahami dunia di sekitarnya.

Namun, orang tua juga sering bingung membedakan mana anak yang memang hanya sedikit lebih lambat bicara dan mana anak yang sudah perlu diperiksa lebih lanjut. Ada anak yang tampak sehat, aktif, bisa berjalan, bisa bermain, tetapi belum banyak bicara. Ada juga anak yang bisa mengucapkan beberapa kata, tetapi tidak bertambah kosakatanya. Sebagian anak lebih sering menunjuk, menarik tangan orang tua, menangis, atau marah ketika ingin sesuatu, bukan mengatakannya dengan kata-kata.

Kondisi inilah yang sering disebut sebagai speech delay atau keterlambatan bicara. Secara sederhana, speech delay adalah kondisi ketika kemampuan bicara anak belum sesuai dengan usia perkembangannya. Siloam Hospitals menjelaskan bahwa speech delay terjadi ketika anak belum mencapai kemampuan bahasa yang seharusnya sudah muncul pada usia tertentu; anak mungkin kesulitan memahami orang lain atau mengekspresikan diri.

Meski begitu, artikel ini tidak bertujuan untuk mendiagnosis anak secara langsung. Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Akan tetapi, orang tua tetap perlu mengenali tanda-tanda awal keterlambatan bicara agar anak bisa mendapatkan stimulasi dan bantuan yang tepat sedini mungkin. IDAI menjelaskan bahwa keterlambatan bicara dapat disebabkan oleh banyak faktor, seperti gangguan pendengaran, gangguan pada otak, autisme, atau gangguan organ mulut yang membuat anak sulit melafalkan kata. Untuk menegakkan diagnosis, dibutuhkan pemeriksaan teliti dan terkadang pendekatan multidisiplin.

Apa Itu Speech Delay?

Speech delay adalah keterlambatan kemampuan anak dalam berbicara dibandingkan dengan anak seusianya. Anak yang mengalami speech delay bisa saja sudah mengeluarkan suara, mengoceh, atau menyebut beberapa kata, tetapi kemampuan bicaranya belum berkembang sesuai tahapan usia.

Misalnya, pada usia tertentu anak seharusnya sudah mulai mengucapkan kata bermakna, tetapi ia hanya mengoceh tanpa makna yang jelas. Atau pada usia 2 tahun, anak seharusnya mulai menggabungkan dua kata sederhana, tetapi ia baru bisa menyebut satu atau dua kata saja. IDAI menyebut bahwa pada usia 2 tahun, anak diharapkan telah mampu mengucapkan kalimat yang terdiri dari dua kata. Jika tanda perkembangan tertentu tidak tercapai, misalnya pada ulang tahun pertama anak belum mengoceh atau babbling, sebaiknya orang tua berkonsultasi ke dokter anak untuk penilaian.

Speech delay tidak selalu berarti anak mengalami gangguan berat. Pada sebagian anak, keterlambatan bisa berkaitan dengan kurang stimulasi, terlalu banyak screen time, atau pola komunikasi di rumah yang kurang melibatkan anak. Namun, pada anak lain, speech delay bisa menjadi tanda adanya gangguan pendengaran, gangguan perkembangan, gangguan bahasa, autisme, atau kondisi medis lain. Karena penyebabnya beragam, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan sendiri.

Yang perlu dipahami, bicara bukan hanya soal mengucapkan kata. Perkembangan bicara berkaitan erat dengan kemampuan mendengar, memahami bahasa, meniru suara, memperhatikan ekspresi orang lain, melakukan kontak mata, menggunakan gestur, dan membangun komunikasi dua arah. Jadi, saat menilai anak terlambat bicara atau tidak, orang tua perlu melihat keseluruhan pola komunikasi anak, bukan hanya jumlah kata yang bisa ia ucapkan.

Perbedaan Speech Delay dan Language Delay

Dalam percakapan sehari-hari, banyak orang menggunakan istilah speech delay untuk semua bentuk keterlambatan komunikasi. Padahal, secara umum ada perbedaan antara keterlambatan bicara dan keterlambatan bahasa.

Bicara lebih berkaitan dengan kemampuan menghasilkan suara dan kata. Misalnya, bagaimana anak mengucapkan kata “mama”, “makan”, “susu”, atau “bola”. Jika anak sulit mengucapkan bunyi tertentu, pengucapannya tidak jelas, atau kata-katanya sulit dipahami, masalahnya bisa berkaitan dengan aspek bicara.

Sementara itu, bahasa berkaitan dengan kemampuan memahami dan menggunakan kata untuk berkomunikasi. Anak dengan masalah bahasa mungkin tidak memahami instruksi sederhana, tidak mengerti pertanyaan, sulit menyusun kalimat, atau tidak mampu menggunakan kata untuk menyampaikan kebutuhan.

Keduanya bisa terjadi bersamaan. Seorang anak mungkin terlambat bicara sekaligus sulit memahami bahasa. Ada juga anak yang memahami instruksi dengan baik, tetapi belum mampu mengucapkan banyak kata. Karena itulah, evaluasi profesional penting untuk mengetahui area mana yang perlu dibantu: apakah kemampuan bicara, pemahaman bahasa, artikulasi, pendengaran, interaksi sosial, atau aspek perkembangan lainnya.

Ciri-Ciri Speech Delay Berdasarkan Usia

Orang tua sering bertanya, “Anak saya usia segini belum bisa bicara, apakah masih normal?” Jawabannya bergantung pada usia anak, kemampuan komunikasi lain, dan apakah ada tanda perkembangan yang belum tercapai.

Pada bayi, tanda awal komunikasi biasanya muncul melalui tangisan, kontak mata, senyuman sosial, respons terhadap suara, dan ocehan. Jika bayi tampak tidak merespons suara keras, jarang menoleh saat dipanggil, atau tidak menunjukkan perkembangan ocehan, orang tua perlu lebih waspada.

Memasuki usia sekitar 1 tahun, anak biasanya mulai mengoceh lebih bervariasi dan perlahan mengucapkan kata bermakna sederhana. IDAI menyebut bahwa apabila pada ulang tahun pertama anak masih belum mengoceh atau babbling, ada baiknya berkonsultasi ke dokter anak agar dilakukan penilaian.

Pada usia sekitar 2 tahun, anak umumnya mulai menggabungkan dua kata sederhana. Contohnya, “mau susu”, “mama sini”, “ambil bola”, atau “adik makan”. Jika pada usia ini anak hanya bisa mengucapkan sangat sedikit kata, belum bisa menggabungkan dua kata, atau lebih sering menunjuk tanpa mencoba bicara, orang tua sebaiknya melakukan evaluasi.

Siloam Hospitals menyebut beberapa parameter yang dapat dijadikan acuan, misalnya pada usia 2 tahun anak perlu diwaspadai jika tidak mampu mengucapkan setidaknya 25 kata atau tidak mampu menyebut nama benda dengan benar. Pada usia 2,5 tahun, anak perlu diwaspadai jika belum mampu menggunakan frasa dua kata atau menyebut anggota tubuh dengan benar. Pada usia 3 tahun, tanda yang perlu diperhatikan antara lain tidak mampu menggunakan banyak kata, ucapannya sulit dipahami, atau tidak mampu menyusun kalimat.

Selain jumlah kata, perhatikan juga respons anak saat diajak bicara. Anak yang mengalami speech delay dapat tampak sulit merespons, jarang meniru ucapan orang lain, sulit menyebut nama benda di rumah, lebih sering menggunakan gestur daripada kata, atau menghindari kontak mata saat berkomunikasi.

Penyebab Speech Delay pada Anak

Penyebab speech delay sangat beragam. Salah satu penyebab penting yang perlu diperiksa adalah gangguan pendengaran. Anak belajar bicara dari suara yang ia dengar. Jika pendengarannya terganggu, ia mungkin tidak mampu menangkap bunyi bahasa dengan jelas. Akibatnya, kemampuan meniru suara dan memahami kata menjadi terhambat. IDAI menyebut gangguan pendengaran sebagai salah satu kemungkinan penyebab keterlambatan bicara.

Penyebab lain adalah gangguan pada organ bicara atau struktur mulut. Misalnya, ada masalah pada lidah, bibir, rahang, langit-langit mulut, atau koordinasi gerakan mulut. Kondisi ini dapat membuat anak sulit menghasilkan bunyi tertentu atau mengucapkan kata dengan jelas.

Speech delay juga dapat berkaitan dengan gangguan perkembangan yang lebih luas. Misalnya, anak mengalami keterlambatan perkembangan umum, gangguan bahasa spesifik, disabilitas intelektual, atau autisme. IDAI menjelaskan bahwa penyebab terlambat bicara dapat meliputi kelainan bentuk organ penghasil suara, gangguan pendengaran, gangguan perilaku, gangguan perkembangan umum, specific language impairment, disabilitas intelektual, kurang stimulasi, masalah psikososial, dan penyebab lainnya. Beberapa gangguan bahkan dapat terjadi bersamaan.

Kurang stimulasi juga menjadi faktor yang sering ditemukan. Anak membutuhkan interaksi dua arah agar kemampuan bahasanya berkembang. Ia perlu diajak bicara, didengarkan, ditanggapi, dibacakan buku, diajak bernyanyi, dan diberi kesempatan untuk mencoba menyampaikan keinginannya. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa anak yang lebih sering diberikan gadget tanpa pendampingan dapat menerima stimulasi satu arah, bukan komunikasi dua arah. Akibatnya, anak kurang dilatih untuk mengomunikasikan keinginan atau perasaannya.

Faktor gadget juga perlu diperhatikan. Bukan berarti semua gadget pasti menyebabkan speech delay, tetapi penggunaan layar yang berlebihan dan tanpa interaksi bisa mengurangi waktu anak untuk berkomunikasi langsung dengan orang tua. Padahal, anak belajar bahasa melalui observasi, imitasi, dan interaksi. Kemenkes menyebut bahwa orang tua menjadi role model penting dalam perkembangan bahasa anak, baik dari kosakata, ucapan, maupun pemahaman.

Mengapa Orang Tua Tidak Boleh Menunggu Terlalu Lama?

Salah satu kalimat yang sering terdengar adalah, “Nanti juga bisa bicara sendiri.” Kalimat ini memang bisa menenangkan, tetapi berisiko membuat anak terlambat mendapatkan bantuan. Tidak semua keterlambatan bicara akan membaik sendiri. Ada anak yang memang mengejar ketertinggalan, tetapi ada juga anak yang membutuhkan terapi atau penanganan khusus.

IDAI menyebut bahwa anak dengan gangguan bicara dan bahasa kadang terlambat mendapat perhatian karena orang tua berpikir anak hanya terlambat mulai dan nanti akan mengejar sendiri. Dalam newsletter IDAI, keterlambatan bicara dan bahasa disebut dialami oleh 5–8% anak usia prasekolah.

Keterlambatan bicara yang tidak ditangani juga dapat berdampak pada area lain. Anak yang sulit bicara bisa menjadi mudah frustrasi karena keinginannya tidak dipahami. Ia bisa lebih sering tantrum, menangis, menarik tangan orang tua, memukul, atau menghindari interaksi. Dalam jangka panjang, gangguan bicara dan bahasa juga dapat memengaruhi kemampuan belajar, membaca, bersosialisasi, dan perilaku. IDAI menjelaskan bahwa keterlambatan atau gangguan bicara-bahasa dapat berdampak besar pada kehidupan anak dan dapat memiliki dampak jangka panjang.

Kemenkes juga menyebut bahwa keterlambatan bicara yang tidak diatasi dapat berisiko bertahan pada sebagian anak dan berhubungan dengan masalah sosial, emosional, perilaku, serta kognitif di masa depan. Karena itu, lebih baik melakukan pemeriksaan lebih awal daripada menunggu terlalu lama.

Kapan Harus ke Dokter Anak?

Orang tua sebaiknya berkonsultasi ke dokter anak jika anak menunjukkan tanda perkembangan bicara yang tertinggal dari usianya. Misalnya, bayi tidak merespons suara, tidak mengoceh pada usia sekitar 1 tahun, tidak mengucapkan kata bermakna, tidak mampu menggabungkan dua kata pada usia 2 tahun, atau ucapannya sangat sulit dipahami pada usia 3 tahun.

Konsultasi juga penting jika anak tampak tidak memahami instruksi sederhana. Misalnya, ketika diminta “ambil bola”, “dadah”, “sini”, atau “kasih Mama”, anak tidak merespons secara konsisten. Jika anak sering tidak menoleh saat dipanggil, orang tua juga perlu memeriksakan pendengarannya.

Dokter anak dapat membantu menilai apakah keterlambatan bicara berkaitan dengan pendengaran, perkembangan umum, kondisi medis, atau faktor lain. Jika dibutuhkan, dokter dapat merujuk anak ke dokter THT, psikolog anak, psikiater anak, terapis wicara, atau ahli tumbuh kembang. IDAI menyebut bahwa penegakan diagnosis penyebab keterlambatan bicara kadang membutuhkan pendekatan multidisiplin oleh dokter anak, dokter THT, psikolog, atau psikiater anak.

Jangan menunggu sampai anak masuk sekolah jika tanda-tandanya sudah terlihat sejak dini. Semakin cepat diketahui, semakin cepat anak bisa mendapatkan stimulasi dan intervensi yang sesuai.

Kapan Harus ke Psikolog Anak?

Psikolog anak dapat membantu ketika keterlambatan bicara disertai masalah perilaku, emosi, interaksi sosial, atau pola komunikasi. Misalnya, anak sering tantrum karena tidak bisa menyampaikan keinginan, mudah frustrasi, sulit bermain bersama anak lain, tidak tertarik berinteraksi, atau orang tua merasa kesulitan membangun komunikasi sehari-hari.

Psikolog anak juga dapat membantu melihat apakah ada faktor psikososial yang memengaruhi perkembangan bicara. Misalnya, pola interaksi di rumah, kebiasaan screen time, respons orang tua terhadap komunikasi anak, atau dinamika emosi anak. Dalam beberapa kasus, psikolog bekerja bersama dokter anak, terapis wicara, guru, dan keluarga untuk membuat rencana stimulasi yang lebih sesuai.

Namun, bila ada kecurigaan gangguan pendengaran, kejang, riwayat prematur, gangguan makan, keterlambatan motorik, atau tanda medis lain, pemeriksaan dokter tetap sangat penting. Artinya, psikolog anak bukan pengganti dokter, dan dokter bukan pengganti psikolog. Keduanya bisa saling melengkapi sesuai kebutuhan anak.

Apa Itu Terapi Wicara?

Terapi wicara adalah layanan yang membantu anak dengan gangguan komunikasi, termasuk keterlambatan bicara, gangguan artikulasi, gagap, gangguan bahasa reseptif dan ekspresif, serta gangguan suara. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa terapi wicara mencakup evaluasi, diagnosis, latihan, dan strategi individual agar pasien dapat berkomunikasi dengan lebih baik.

Dalam terapi wicara, anak tidak hanya “diajari bicara” secara kaku. Terapis biasanya menggunakan pendekatan bermain, gambar, lagu, buku, latihan meniru suara, latihan memahami instruksi, latihan mengucapkan kata, dan latihan komunikasi dua arah. Programnya disesuaikan dengan usia, kemampuan, dan penyebab keterlambatan anak.

Kemenkes menjelaskan bahwa sebelum terapi dimulai, terapis melakukan asesmen untuk mengetahui jenis dan tingkat gangguan. Setelah itu, dibuat rencana terapi individual yang dapat mencakup latihan artikulasi, stimulasi bahasa reseptif dan ekspresif, teknik pernapasan, kontrol suara, atau latihan menelan jika diperlukan.

Orang tua tetap memiliki peran besar meskipun anak sudah mengikuti terapi. Terapi yang hanya dilakukan satu atau dua kali seminggu tidak cukup jika di rumah anak tetap jarang diajak bicara. Kunci keberhasilan biasanya ada pada kolaborasi antara terapis dan keluarga.

Cara Menstimulasi Bicara Anak di Rumah

Stimulasi di rumah tidak harus mahal atau rumit. Yang terpenting adalah konsisten dan dilakukan dalam interaksi sehari-hari.

Pertama, sering ajak anak bicara dengan kalimat sederhana. Saat memandikan anak, orang tua bisa berkata, “Ini sabun”, “Cuci tangan”, “Air hangat”, “Kaki adik”, atau “Sekarang pakai baju”. Anak belajar dari kata-kata yang sering ia dengar dalam konteks nyata.

Kedua, beri jeda agar anak punya kesempatan merespons. Banyak orang tua tanpa sadar terlalu cepat memenuhi kebutuhan anak. Anak menunjuk gelas, orang tua langsung memberi minum. Anak menarik tangan ke arah mainan, orang tua langsung mengambilkan. Sesekali, beri kesempatan anak mencoba berkata. Misalnya, “Mau apa? Mau minum? Bilang: minum.” Jangan memaksa dengan tekanan berlebihan, tetapi beri contoh kata yang mudah ditiru.

Ketiga, bacakan buku setiap hari. Buku bergambar sangat membantu memperkaya kosakata. Tunjuk gambar dan sebutkan namanya: “Ini kucing”, “Kucing tidur”, “Bola merah”, “Mobil jalan”. Tidak perlu membaca panjang seperti orang dewasa. Yang penting anak melihat gambar, mendengar kata, dan menikmati interaksi.

Keempat, bernyanyi bersama. Lagu anak-anak membantu anak mengenal irama, bunyi, pengulangan kata, dan ekspresi. Lagu sederhana seperti “Balonku”, “Cicak-Cicak di Dinding”, atau “Topi Saya Bundar” bisa digunakan untuk melatih anak meniru kata dan gerakan.

Kelima, batasi screen time dan dampingi anak saat menggunakan layar. Jika anak menonton video, orang tua sebaiknya ikut berinteraksi. Misalnya, “Itu apa? Kucing. Kucing bilang meong.” Jangan biarkan anak hanya menerima suara dan gambar dari layar tanpa komunikasi dua arah. Kemenkes menyarankan orang tua sering mengajak anak berbicara, memperbanyak membaca buku bersama anak, melibatkan anak dalam dialog tentang perilaku atau perasaan, membatasi screen time, dan menciptakan interaksi sosial aktif bersama anak.

Keenam, jangan terlalu sering menggunakan bahasa bayi. Jika anak berkata “cu-cu” untuk susu, orang tua bisa menanggapi dengan versi yang benar: “Iya, susu. Adik mau susu.” Hindari mengejek atau memarahi. Cukup berikan model kata yang benar secara berulang.

Ketujuh, gunakan pilihan sederhana. Misalnya, “Mau apel atau pisang?”, “Mau bola atau mobil?”, “Mau buku ini atau buku itu?” Pilihan seperti ini mendorong anak menggunakan kata, menunjuk, atau mencoba menyampaikan keinginan.

Hal yang Sebaiknya Dihindari Orang Tua

Hindari membandingkan anak dengan anak lain secara menyakitkan. Kalimat seperti, “Kakak kamu dulu cepat bicara,” atau “Anak tetangga saja sudah pintar ngomong,” tidak membantu anak dan bisa membuat orang tua semakin stres. Setiap anak perlu dipahami berdasarkan kondisi perkembangannya sendiri.

Hindari juga memaksa anak bicara dengan tekanan berlebihan. Misalnya, tidak memberikan minum sama sekali sampai anak mengucapkan kata dengan sempurna. Cara seperti ini bisa membuat anak frustrasi. Tujuannya bukan membuat anak takut, tetapi memberi kesempatan bicara dengan suasana yang aman.

Hindari menganggap gadget sebagai pengasuh utama. Gadget mungkin membantu anak diam sementara, tetapi tidak bisa menggantikan interaksi manusia. Anak membutuhkan wajah, suara, ekspresi, sentuhan, respons, dan percakapan nyata dari orang tua.

Hindari menunda pemeriksaan jika tanda-tandanya jelas. Lebih baik diperiksa dan ternyata anak hanya butuh stimulasi tambahan, daripada menunggu terlalu lama padahal anak membutuhkan terapi atau evaluasi lebih mendalam.

Peran Orang Tua dalam Mendampingi Anak Speech Delay

Mendampingi anak dengan speech delay membutuhkan kesabaran. Kemajuan anak tidak selalu cepat. Ada yang mulai menambah kosakata setelah beberapa minggu stimulasi, ada yang membutuhkan terapi berbulan-bulan, dan ada yang perlu pendampingan lebih kompleks karena penyebabnya bukan hanya kurang stimulasi.

Orang tua perlu mencatat perkembangan anak. Misalnya, kata apa saja yang sudah bisa diucapkan, apakah anak mulai meniru suara, apakah ia memahami instruksi, apakah ia lebih sering menunjuk atau mulai mencoba kata, dan bagaimana responsnya terhadap komunikasi dua arah. Catatan ini sangat berguna saat berkonsultasi dengan dokter, psikolog, atau terapis wicara.

Selain itu, orang tua perlu menjaga suasana rumah agar mendukung komunikasi. Perbanyak percakapan, kurangi distraksi layar, beri anak waktu menjawab, dan rayakan usaha kecilnya. Ketika anak mencoba mengatakan “ma” untuk “makan”, orang tua bisa merespons dengan hangat: “Iya, makan. Adik mau makan.” Respons positif membantu anak merasa bahwa berbicara itu menyenangkan dan berguna.

Penutup

Speech delay adalah kondisi yang perlu diperhatikan, tetapi tidak perlu disikapi dengan panik berlebihan. Yang paling penting adalah orang tua mengenali tanda-tandanya, memberikan stimulasi yang tepat, dan tidak menunda pemeriksaan jika perkembangan bicara anak terlihat tertinggal.

Anak belajar bicara dari interaksi sehari-hari. Ia membutuhkan orang tua yang sering mengajak bicara, membacakan buku, bernyanyi, bermain, menanggapi usaha komunikasinya, dan memberi contoh kata yang benar. Namun, jika keterlambatan bicara berkaitan dengan gangguan pendengaran, gangguan perkembangan, gangguan bahasa, atau kondisi medis lain, anak membutuhkan bantuan profesional.

Jangan menunggu hanya karena berharap anak akan bicara sendiri suatu hari nanti. Pemeriksaan lebih dini bukan berarti orang tua berlebihan. Justru itu adalah bentuk kepedulian. Dengan deteksi awal, stimulasi yang konsisten, dan pendampingan yang sesuai, anak memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan kemampuan komunikasinya secara optimal.

Daftar Referensi